Jika Ibadah hanya karena Ramadhan, sungguh ia telah pergi berlalu.

Tapi jika semua karena Allah, tak akan ada yang berubah meski Ramadhan telah pergi.

Al Habib Umar bin Hafidz
Jika Ibadah hanya karena Ramadhan, sungguh ia telah pergi berlalu. Tapi jika semua karena Allah, tak akan ada yang berubah meski Ramadhan telah pergi. Al Habib Umar bin Hafidz
Sat 8 Jun 06:21 25843 37
"Terbakarnya Syetan yang telah lepas dari penjara Ramadhan"
_
Al Habib 'Umar Bin Hafidz:
_
"Berhati-hatilah karena syaithon yang terikat di laut selama Bulan Ramadhan telah bebas dan sekarang mereka kembali bertebaran dan rindu untuk menggoda kembali manusia..! Akan tetapi siapa yang keluar dari Bulan Ramadhan dengan membawa cahaya, maka syaithon tidak mampu mendekat padanya. Karena, jika mendekat padanya akan terbakar oleh cahaya tersebut."
_
Masya Allah. Mudah mudahan kita mendapat bagian dari cahaya bulan Ramadhan.

Aamiin...
"Terbakarnya Syetan yang telah lepas dari penjara Ramadhan" _ Al Habib 'Umar Bin Hafidz: _ "Berhati-hatilah karena syaithon yang terikat di laut selama Bulan Ramadhan telah bebas dan sekarang mereka kembali bertebaran dan rindu untuk menggoda kembali manusia..! Akan tetapi siapa yang keluar dari Bulan Ramadhan dengan membawa cahaya, maka syaithon tidak mampu mendekat padanya. Karena, jika mendekat padanya akan terbakar oleh cahaya tersebut." _ Masya Allah. Mudah mudahan kita mendapat bagian dari cahaya bulan Ramadhan. Aamiin...
Fri 7 Jun 11:58 37903 234
Selamat Hari Raya Idul Fithri
1 Syawal 1440 H / 5 Juni 2019
Minal 'Aidin Wal Faidzin
Mohon Maaf Lahir Bathin
_
تقبل الله منا و منكم تقبل يا كريم
_
#habibumarindonesia #habibumar_indonesia
#IdulFitri1440H
Selamat Hari Raya Idul Fithri 1 Syawal 1440 H / 5 Juni 2019 Minal 'Aidin Wal Faidzin Mohon Maaf Lahir Bathin _ تقبل الله منا و منكم تقبل يا كريم _ #habibumarindonesia #habibumar_indonesia #ıdulfitri1440h
Tue 4 Jun 11:00 13616 25
AMALAN BERIBADAH PADA MALAM HARI RAYA
-
Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan bahwa do’a dikabulkan pada 5 malam, yaitu malam Jum’at,  malam hari raya kurban (lailatul Adlhaa), malam ‘Idul Fithri, malam pertama bulan Rajab dan malam pertengahan bulan Sya’ban”.
-
Muhammad bin Ibrahim mengabarkan kepada Imam Syafi’i, ia berkata : “Aku menyaksikan para syaikh (ulama) besar penduduk Kota Madinah menampakkan kemeriahan malam hari raya di Masjid Nabawi, mereka semua berdo’a dan melakukan dzikir-dzikir kepada Allah hingga waktu malam pun berlalu (semalam suntuk)”
-
Imam Al-Nawawi rahimahullah didalam kitabnya, Al-Majmu, mengatakan : “Ashhab kami (ulama Syafi’iyah kami) berkata, dianjurkan menghidupkan malam dua hari raya dengan shalat atau amaliyah-amaliyah ketaatan yang lainnya, ulama kami berhujjah dengan hadits Abi Umamah dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam “barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya, hatinya tidak akan mati ketika matinya semua hati”. Dan didalam riwayat Imam Al-Syafi’i serta Imam Ibnu Majah, “Barangsiapa yang menghidupkan malam dua hari raya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya hatinya tidak akan mati ketika matinya semua hati”
-
Imam Nawawi didalam kitabnya yang lain, Al-Adzkar :“Ketahuilah bahwa disunnahkan (dianjurkan) menghidupkan malam kedua hari raya dengan dzikir kepada Allah, shalat dan amaliyah lainnya berupa amaliyah-amaliyah keta’atan, berdasarkan hadits yang warid tentang hal tersebut, “barangsiapa menghidupkan malam hari raya, hatinya tidak akan pernah mati pada matinya semua hati”. dan diriwayatkan juga “barangsiapa yang menegakkan malam-malam hari-raya karena Allah dengan penuh keikhlasan, hatinya tidak akan pernah mati ketika matinya semua hati”, seperti itu juga yang ada dalam riwayat Imam asy-Syafi’i dan Imam Ibnu Majah.
AMALAN BERIBADAH PADA MALAM HARI RAYA - Imam Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan bahwa do’a dikabulkan pada 5 malam, yaitu malam Jum’at, malam hari raya kurban (lailatul Adlhaa), malam ‘Idul Fithri, malam pertama bulan Rajab dan malam pertengahan bulan Sya’ban”. - Muhammad bin Ibrahim mengabarkan kepada Imam Syafi’i, ia berkata : “Aku menyaksikan para syaikh (ulama) besar penduduk Kota Madinah menampakkan kemeriahan malam hari raya di Masjid Nabawi, mereka semua berdo’a dan melakukan dzikir-dzikir kepada Allah hingga waktu malam pun berlalu (semalam suntuk)” - Imam Al-Nawawi rahimahullah didalam kitabnya, Al-Majmu, mengatakan : “Ashhab kami (ulama Syafi’iyah kami) berkata, dianjurkan menghidupkan malam dua hari raya dengan shalat atau amaliyah-amaliyah ketaatan yang lainnya, ulama kami berhujjah dengan hadits Abi Umamah dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam “barangsiapa yang menghidupkan malam hari raya, hatinya tidak akan mati ketika matinya semua hati”. Dan didalam riwayat Imam Al-Syafi’i serta Imam Ibnu Majah, “Barangsiapa yang menghidupkan malam dua hari raya dengan penuh keikhlasan karena Allah, niscaya hatinya tidak akan mati ketika matinya semua hati” - Imam Nawawi didalam kitabnya yang lain, Al-Adzkar :“Ketahuilah bahwa disunnahkan (dianjurkan) menghidupkan malam kedua hari raya dengan dzikir kepada Allah, shalat dan amaliyah lainnya berupa amaliyah-amaliyah keta’atan, berdasarkan hadits yang warid tentang hal tersebut, “barangsiapa menghidupkan malam hari raya, hatinya tidak akan pernah mati pada matinya semua hati”. dan diriwayatkan juga “barangsiapa yang menegakkan malam-malam hari-raya karena Allah dengan penuh keikhlasan, hatinya tidak akan pernah mati ketika matinya semua hati”, seperti itu juga yang ada dalam riwayat Imam asy-Syafi’i dan Imam Ibnu Majah.
Tue 4 Jun 04:11 19610 36
KISAH DI HARI RAYA
_
Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz menatap putranya Abdul Malik yg sedang mengenakan pakaian usang dihari raya. Umarpun lalu menangis. 
Putranya yg melihat sang ayah menangis bertanya, "Apa yg membuatmu menangis wahai ayahku..?
_
Umar menjawab, "Wahai putraku.. Aku takut bila engkau keluar & bermain bersama anak-anak diluar sana dengan hati yg hancur."
_
Putra yg sangat berbakti itu berkata, "Orang yg hatinya hancur adalah mereka yg bermaksiat kepada Rabb mereka dan durhaka kepada ibu bapak mereka.
Dan aku berharap agar Allah meridhoiku berkat ridhomu padaku wahai ayah.
Segera saja Umar memeluk putranya dengan erat lalu mendoakannya. Dikemudian hari, putranya tersebut menjadi seorang yg sangat zuhud.*
_
Dikesempatan yg lain datanglah putri-putri Umar bin Abdul Aziz mengadu kepadanya, "Ayah... besok adalah hari raya, sementara kami belum memiliki pakaian baru. Umarpun menatap mereka dan berkata, "Putri-putriku. Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru. Hari raya itu bagi orang yg takut akan hari kiamat."
_
Bendahara negara yang melihat pemandangan yg mengharukan itu memberi tawaran kepada sang Khalifah, "Wahai Amirul Mukminin.. Apa salahnya bila kami membayarkan gaji anda bulan depan lebih awal.?
_
Mendengar tawaran itu, Umar menatap sang bendahara dengan tatapan marah. Umar berkata, "Apakah kamu mengetahui ilmu ghaib sehingga engkau tau bahwa aku masih akan hidup sehari setelah hari ini.?
_
Engkau benar wahai Amiirul Mukminin, bahwa tak ada yg mengetahui apa yg akan terjadi esok hari. Allah azza wa jalla berfirman:
_
 وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
_
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yg dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS: Luqman: 34)
_
Diterjemahkan dari:
*www.saaid.net
*www.alukah.net
KISAH DI HARI RAYA _ Suatu hari Khalifah Umar bin Abdul Aziz menatap putranya Abdul Malik yg sedang mengenakan pakaian usang dihari raya. Umarpun lalu menangis. Putranya yg melihat sang ayah menangis bertanya, "Apa yg membuatmu menangis wahai ayahku..? _ Umar menjawab, "Wahai putraku.. Aku takut bila engkau keluar & bermain bersama anak-anak diluar sana dengan hati yg hancur." _ Putra yg sangat berbakti itu berkata, "Orang yg hatinya hancur adalah mereka yg bermaksiat kepada Rabb mereka dan durhaka kepada ibu bapak mereka. Dan aku berharap agar Allah meridhoiku berkat ridhomu padaku wahai ayah. Segera saja Umar memeluk putranya dengan erat lalu mendoakannya. Dikemudian hari, putranya tersebut menjadi seorang yg sangat zuhud.* _ Dikesempatan yg lain datanglah putri-putri Umar bin Abdul Aziz mengadu kepadanya, "Ayah... besok adalah hari raya, sementara kami belum memiliki pakaian baru. Umarpun menatap mereka dan berkata, "Putri-putriku. Hari raya itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru. Hari raya itu bagi orang yg takut akan hari kiamat." _ Bendahara negara yang melihat pemandangan yg mengharukan itu memberi tawaran kepada sang Khalifah, "Wahai Amirul Mukminin.. Apa salahnya bila kami membayarkan gaji anda bulan depan lebih awal.? _ Mendengar tawaran itu, Umar menatap sang bendahara dengan tatapan marah. Umar berkata, "Apakah kamu mengetahui ilmu ghaib sehingga engkau tau bahwa aku masih akan hidup sehari setelah hari ini.? _ Engkau benar wahai Amiirul Mukminin, bahwa tak ada yg mengetahui apa yg akan terjadi esok hari. Allah azza wa jalla berfirman: _ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ _ Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yg dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS: Luqman: 34) _ Diterjemahkan dari: *www.saaid.net *www.alukah.net
Mon 3 Jun 06:04 37219 82
_
‏اللهم لا تخرجني من رمضان إلا وقد أصلحت حالي
 وأسعدت حياتي وغفرت جميع ذنوبي وتقبلت صلاتي
 وصيامي وحققت لي ما أتمناه ويسرت لي كل أمر عسير
_
Ya Allah jangan keluarkan diriku dari Bulan ramadhan melainkan engkau telah memperbaiki keadaanku, membahagiakan hidupku, mengampuni semua dosa-dosaku, menerima ibadah shalat dan puasaku, mencapaikan segala yang aku dambakan, dan mempermudah kepada diriku segala sesuatu urusan yang sulit.
_ ‏اللهم لا تخرجني من رمضان إلا وقد أصلحت حالي وأسعدت حياتي وغفرت جميع ذنوبي وتقبلت صلاتي وصيامي وحققت لي ما أتمناه ويسرت لي كل أمر عسير _ Ya Allah jangan keluarkan diriku dari Bulan ramadhan melainkan engkau telah memperbaiki keadaanku, membahagiakan hidupku, mengampuni semua dosa-dosaku, menerima ibadah shalat dan puasaku, mencapaikan segala yang aku dambakan, dan mempermudah kepada diriku segala sesuatu urusan yang sulit.
Sun 2 Jun 20:58 20975 114
Fatwa Habib Umar Bin Hafidz Menjawab Adzan di Saat Buka Puasa
- -
Soal:
Ketika Adzan Maghrib, kita disibukkan dengan buka puasa, lantas bagaimana dengan menjawab Adzannya, apakah ketika berbuka, sebelumnya atau sesudahnya?
- -
Jawab:
Ini adalah hal yang dibutuhkan banyak orang di masa-masa seperti ini. Sebab mereka ketika sibuk dengan berbuka, mereka lalai dari menjawab Adzan. Maka kami katakan: Jawaban Adzan itu bersamaan dengan berbuka, yaitu dengan mendengarkan sambil memakan hidangan buka puasa tanpa berbicara ketika berbuka. Tidak berbicara dengan sesiapapun ketika Muazzin mengumandangkan Adzan. Sebab, meninggalkan perbincangan di kala mendengar Adzan termasuk hal yang dihindari oleh kaum Sholihin. Mereka menganggap sengaja berbincang ketika mendengar Adzan adalah penyebab Su'ul Khotimah, Wal 'Iyadzu Billah.
Maka hendaknya ketika mendengar lafadz Adzan dari Muazzin  tidak berbincang dengan sesiapapun saat memakan hidangan buka puasa. Lantas menjawab Adzan hingga selesai. Nah, hal inilah yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan orang ketika berbuka, baik di Bulan Ramadhan maupun di selainnya. Di mana banyak di antara mereka yang sibuk dengan menyantap hidangan buka puasa ketika Muazzin mengumandangkan Adzan, tak tahu lafadz apa yang sedang dikumandangkan, tak pula menjawabnya. Sedangkan menjawab Adzan hukumnya Sunnah Mu'akkadah.
Rasulullah saw bersabda:
( من سمع المؤذن فقال مثل ما يقول ثم صلى عليَّ وسأل لي الوسيلة حلَّت له شفاعتي يوم القيامة )
"Sesiapa yang mendengar Muazzin, lantas berkata seperti apa yang ia katakan. Kemudian berhsolawat kepadaku dan memintakan Wasilah untukku. Maka dia berhak mendapatkan Syafa'atku pada hari Kiamat."
Maka selayaknya kita menjawab Muazzin, dan mengagungkan ritual ini, meskipun kita sedang dalam keadaan berbuka.
Adapun menyusul jawaban Adzan ini berlaku ketika ia berada di tempat yang tak memungkinnya untuk menjawab seperti berada di  kamar mandi atau wc ketika sedang membuang hajatnya, karena tempat ini adalah tempat yang kotor, yang tak memungkinkannya untuk menjawab Adzan. Maka, ketika ia sudah keluar hendaknya menjawab Adzan dari awal hingga akhir, meskipun Muazzin sudah menyelesaikan Adzannya.
- -
Link Fatwa: di komentar
Fatwa Habib Umar Bin Hafidz Menjawab Adzan di Saat Buka Puasa - - Soal: Ketika Adzan Maghrib, kita disibukkan dengan buka puasa, lantas bagaimana dengan menjawab Adzannya, apakah ketika berbuka, sebelumnya atau sesudahnya? - - Jawab: Ini adalah hal yang dibutuhkan banyak orang di masa-masa seperti ini. Sebab mereka ketika sibuk dengan berbuka, mereka lalai dari menjawab Adzan. Maka kami katakan: Jawaban Adzan itu bersamaan dengan berbuka, yaitu dengan mendengarkan sambil memakan hidangan buka puasa tanpa berbicara ketika berbuka. Tidak berbicara dengan sesiapapun ketika Muazzin mengumandangkan Adzan. Sebab, meninggalkan perbincangan di kala mendengar Adzan termasuk hal yang dihindari oleh kaum Sholihin. Mereka menganggap sengaja berbincang ketika mendengar Adzan adalah penyebab Su'ul Khotimah, Wal 'Iyadzu Billah. Maka hendaknya ketika mendengar lafadz Adzan dari Muazzin tidak berbincang dengan sesiapapun saat memakan hidangan buka puasa. Lantas menjawab Adzan hingga selesai. Nah, hal inilah yang banyak dilalaikan oleh kebanyakan orang ketika berbuka, baik di Bulan Ramadhan maupun di selainnya. Di mana banyak di antara mereka yang sibuk dengan menyantap hidangan buka puasa ketika Muazzin mengumandangkan Adzan, tak tahu lafadz apa yang sedang dikumandangkan, tak pula menjawabnya. Sedangkan menjawab Adzan hukumnya Sunnah Mu'akkadah. Rasulullah saw bersabda: ( من سمع المؤذن فقال مثل ما يقول ثم صلى عليَّ وسأل لي الوسيلة حلَّت له شفاعتي يوم القيامة ) "Sesiapa yang mendengar Muazzin, lantas berkata seperti apa yang ia katakan. Kemudian berhsolawat kepadaku dan memintakan Wasilah untukku. Maka dia berhak mendapatkan Syafa'atku pada hari Kiamat." Maka selayaknya kita menjawab Muazzin, dan mengagungkan ritual ini, meskipun kita sedang dalam keadaan berbuka. Adapun menyusul jawaban Adzan ini berlaku ketika ia berada di tempat yang tak memungkinnya untuk menjawab seperti berada di kamar mandi atau wc ketika sedang membuang hajatnya, karena tempat ini adalah tempat yang kotor, yang tak memungkinkannya untuk menjawab Adzan. Maka, ketika ia sudah keluar hendaknya menjawab Adzan dari awal hingga akhir, meskipun Muazzin sudah menyelesaikan Adzannya. - - Link Fatwa: di komentar
Sun 2 Jun 06:29 16070 35
Kematian itu bukan musibah terbesar dalam hidup, bahkan ia adalah hukum kehidupan. Musibah terbesar itu jika perasaan takut pada Allah sudah mati, sedangkan Anda masih hidup! - -
Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi
Kematian itu bukan musibah terbesar dalam hidup, bahkan ia adalah hukum kehidupan. Musibah terbesar itu jika perasaan takut pada Allah sudah mati, sedangkan Anda masih hidup! - - Syaikh Muhammad Mutawalli asy-Sya'rawi
Sat 1 Jun 14:57 6333 7
_
كم من عائب قولا صحيحا وآفته من الفهم السقيم
_
Berapa banyak orang yang mencela perkataan baik, Bermula dari lemahnya pemahaman yang keliru.
_
Al Habib Umar bin Hafidz
_ كم من عائب قولا صحيحا وآفته من الفهم السقيم _ Berapa banyak orang yang mencela perkataan baik, Bermula dari lemahnya pemahaman yang keliru. _ Al Habib Umar bin Hafidz
Fri 31 May 21:08 32697 68
إِن الاجتماع والتعارف والاتحاد والتألف هو الامر الذي لايجهل احد منفعته.
_
"Tak ada syak (keraguan) bahwa kebaikan niscaya ada dalam setiap kebersamaan, saling memahami, kekompakan, dan saling mengasihi."
_
Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari
إِن الاجتماع والتعارف والاتحاد والتألف هو الامر الذي لايجهل احد منفعته. _ "Tak ada syak (keraguan) bahwa kebaikan niscaya ada dalam setiap kebersamaan, saling memahami, kekompakan, dan saling mengasihi." _ Hadrotus Syaikh KH. Hasyim Asy'ari
Fri 31 May 08:00 27474 42
Diriwayatkan, di penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali bergumam, “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ‘melayatnya’.”
_
Semoga Allah Menggembirakan kita sekalian dengan diterimanya Amal Ibadah kita, dan di pertemukan kembali kita di Bulan Ramadhan yang akan datang.
Diriwayatkan, di penghujung Ramadhan, Sayyidina Ali bergumam, “Aduhai, andai aku tahu siapakah gerangan yang diterima amalannya agar aku dapat memberi ucapan selamat kepadanya, dan siapakah gerangan yang ditolak amalannya agar aku dapat ‘melayatnya’.” _ Semoga Allah Menggembirakan kita sekalian dengan diterimanya Amal Ibadah kita, dan di pertemukan kembali kita di Bulan Ramadhan yang akan datang.
Thu 30 May 08:08 28313 166
KUALITAS KITA ADA DI SESI PENUTUP
_
قال ابن رجب رحمه الله تعالى : 
يا عباد الله  إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل  فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى
_
Berkata Ibnu Rajab Rahimahullah : "Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit. Maka siapa saja yang sudah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia menyempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia mengakhiri Romadhon dengan yang  terbaik."
_
Ya Allah jadikanlah sebaik-baik amalanku adalah pada penutupannya.
KUALITAS KITA ADA DI SESI PENUTUP _ قال ابن رجب رحمه الله تعالى : يا عباد الله إن شهر رمضان قد عزم على الرحيل ولم يبق منه إِلّا قليل فمن منكم أحسن فيه فعليه التمام ومن فرط فليختمه بالحسنى _ Berkata Ibnu Rajab Rahimahullah : "Wahai hamba-hamba Allah, sungguh bulan Ramadhan ini akan segera pergi dan tidaklah tersisa waktunya kecuali sedikit. Maka siapa saja yang sudah berbuat baik di dalamnya hendaklah ia menyempurnakannya dan siapa saja yang telah menyia-nyiakannya hendaklah ia mengakhiri Romadhon dengan yang terbaik." _ Ya Allah jadikanlah sebaik-baik amalanku adalah pada penutupannya.
Wed 29 May 06:04 28875 61
Sponsored by stalkdear.com